Refleksi Terhadap Fenomena Sampah di Akhir Syawwal


ilustrasi gambar: pekanbaru.tribunnews.com

Seharusnya masalah sampah yang sedang mengusik aktifitas Kota Pekanbaru diselesaikan secara bersama-sama. Tak kala pemerintah berusaha memperbaiki sistem managerial sampah yang mungkin sedang tersendat dengan pihak-pihak terkait, pun masyarakat juga harusnya membentuk paguyuban-paguyuban atau komunitas-komunitas seperti; pecinta lingkungan, pecinta kebersihan, dan hal-hal lain yang bertujuan untuk melibatkan anggota masyarakat supaya ikut serta dalam menjaga kebersihan di Kota Pekanbaru.
Persoalan sampah di Kota Pekanbaru tampaknya tak kunjung terselesaikan dengan baik. Hal ini tentunya akan berdampak pada banyak pihak, baik di pihak masyarakat maupun di pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru. Bagi masyarakat keberadaan sampah yang menghiasi Kota Bertuah atau Kota Madani tentu sangat mengganggu kenyamanan dalam berakifitas. Aroma sampah yang ada dimana-mana bak bangkai yang berbau busuk. Disamping itu, keberadaan sampah-sampah dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Bagi Pemkot Pekanbaru, banyaknya sampah yang tidak terurus menjadi gambaran bagi masyarakat bahwa pemerintah gagal melakukan managerial yang baik terhadap persoalan sampah di Ibu Kota Provinsi tersebut.
Melihat fenomena managerial sampah di Kota Pekanbaru yang masih kurang menghasilkan, maka wajar apabila kemudian banyak pihak yang merindukan kepemimpinan Wali Kota di era Herman Abdullah. Pada era kepemimpinan beliau, persoalan sampah merupakan hal yang terselesaikan dengan baik di mata masyarakat. Hal ini dibuktikan dimana Kota Bertuah kala itu berhasil meraih 7 (tujuh) kali penghargaan Adipura dari Pemerintah Republik Indonesia. Demikianlah hipotesa yang menjadi opini di tengah masyarakat Kota Pekanbaru belakangan ini, membandingkan kebijakan-kebijakan pemerintah era sebelumnya dengan pemerintah yang saat ini mengemban amanah tampak lazim dilakukan masyarakat.
Dibalik ‘lalainya’ pemerintah, terkadang masyarakatpun cenderung reaksioner dalam menyikapi berbagai persoalan terkait sampah tersebut, dan bahkan sifat reaksioner itu pun dilakukan oleh beberapa kalangan akademisi, terutama mahasiswa. Namun, sudah sepatutnyakah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masyarakat sejauh ini dalam menyikapi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam upaya mengentaskan persoalan sampah?
Mengingat sekarang merupakan momentum di pengujung syawwal, bulan kemenangan bagi umat muslim, maka sebaiknya bagi semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, untuk merefleksikan diri dan merenungkan fenomena sampah yang sedang terjadi. Di kalangan umat muslim sendiri terdapat sebuah ungkapan yang mengatakan “Kebersihan adalah bagian dari iman”, ungkapan ini tentunya menggambarkan bahwa betapa Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin sangat memperhatikan persoalan kebersihan. Dalam hadis pun dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya Allah Ta’alah itu baik, Dia menyukai kebaikan. Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Allah itu mulia, Dia menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan, Dia menyukai kedermawanan. Maka karenanya bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu.” (H.R. at-Tirmizi no. 2723). Hadis nabi ini menggambarkan bahwa kedudukan kebersihan di sisi Allah begitu mulia sehingga sungguh celaka apabila hambanya tidak mau menjaga kebersihan dengan baik.
Tumpukan sampah yang menghiasi Kota Pekanbaru belakangan ini tentunya menyimpan banyak hikmah. Hikmah tersebut salah satunya berupa terjadinya kerusakan lingkungan yang berdampak pada terganggunya aktifitas kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan pelajaran bagi semua pihak. Jika kita mengacu pada kitab suci al-Qur’an sebagai hudan lil muttaqin, di dalamnya terdapat sebuah firman Allah yang mengatakan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. ar-Rum [30] : 41).
Dari ayat di atas nyatalah bahwa peristiwa sampah yang sedang booming terjadi di Kota Pekanbaru pada dasarnya merupakan akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri. Dengan demikian, seharusnya masyarakat tidak hanya menuntut perbaikan kebijakan dari pemerintah terkait solusi terhadap problem sampah saat ini. Namun, masyarakat pun juga harus menggalakkan kesadaran bagi sesama masyarakat lain untuk tidak melakukan pembuangan sampah dengan sembarangan.
Terkadang lucu, keinginan yang diharapkan masyarakat terhadap pemerintah sering kontradiktif dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh beberapa masyarakat sendiri. Masyarakat ingin pemerintah segera mengentaskan masalah sampah di satu sisi, tapi di sisi lainnya masyarakat masih ‘suka’ melakukan tindakan pembuangan sampah dengan sembarangan. Karena itu, wajar apabila masalah sampah di Kota Pekanbaru tak kunjung bisa terselesaikan.
Seharusnya masalah sampah yang sedang mengusik aktifitas Kota Pekanbaru diselesaikan secara bersama-sama. Tak kala pemerintah berusaha memperbaiki sistem managerial sampah yang mungkin sedang tersendat dengan pihak-pihak terkait, pun masyarakat juga harusnya membentuk paguyuban-paguyuban atau komunitas-komunitas seperti; pecinta lingkungan, pecinta kebersihan, dan hal-hal lain yang bertujuan untuk melibatkan anggota masyarakat supaya ikut serta dalam menjaga kebersihan di Kota Pekanbaru. Andai saudah ada perkumpulan sejenis pecinta lingkungan yang dibentuk atas dasar kesadaran masyarakat, maka tinggal diefektifkan dengan agenda-agenda yang terprogram dengan baik.
Dengan adanya wadah bagi masyarakat supaya ambil bagian dalam mewujudkan kembali dan menjaga kebersihan Kota Pekanbaru diharapkan nantinya mampu merekontruksi nilai yang telah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Rekonstruksi nilai yang dimaksud ialah buang sampah sembarang bukan lagi menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat, tapi kebiasaan masyarakat telah berubah menjadi buang sampah dengan tertib pada tempat yang sudah seharusnya.
Untuk membuat lingkungan kota kembali menjadi bersih tidak bisa hanya dengan menunggu pemerintah mengeluarkan kebijakan. Akantetapi, masyarakat pun juga bertindak untuk mewujudkan kebersihan tersebut. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah bukanlah obat penawar yang sesungguhnya dalam mengobati penyakit sampah yang sedang menyerang Kota Pekanbaru belakangan ini. Masyarakat harusnya juga sadar bahwa tidak mungkin terus menunggu keajaiban datang dari kebijakan pemerintah. Karena pemerintah bukanlah pesulap yang bisa mengubah keadaan hanya dalam sekali mata berkedip.
Perubahan yang diimpikan kalangan masyarakat dan bahkan mungkin juga diimpikan pemerintah saat ini tidak akan pernah terwujud jika masing-masing pribadi tidak mau melakukan perubahan tersebut. Pernyataan ini sejalan pula dengan yang dituliskan dalam firman Allah Ta’alah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Q.S. ar-Ra’d [13] : 11).

Harapanya, di akhir bulan syawwal ini kita mampu merefleksikan diri dan merenungkan posisi yang seharusnya kita ambil dalam menanggapi persoalan sampah yang sedang terjadi di Kota Pekanbaru. Menuntut pemerintah agar segera mengentaskan problem sampah dengan tindakan kita yang masih cenderung melakukan pembuangan sampah di sembarangan tempat sungguh jauh dari nilai-nilai kebijaksanaan dan tentunya hal ini jauh di luar keinginan yang kita harapkan selaku masyarakat. Kita seolah mengutuk tumpukan sampah yang ada dimana-mana, dengan cara ikut melakukan pembuangan sampah di sembarangan tempat. Padahal, dalam Islam, Allah tidak menyukai orang yang hanya mengkritik realita yang terjadi dengan mengatakan apa yang seharusnya tapi tidak ada tindakan yang dilakukan atas perkataanya itu. Sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. as-Saff [61] : 2-3). Oleh karena itu, hendaknya bersama-sama masyarakat mendukung pemerintah dalam upaya mengentaskan persoalan sampah dengan cara ambil bagian dalam membersihkan dan menjaga kebersihan lingkungan.

0 comments