Goresan Intelektual


Oleh: MHD Zakiul Fikri
Ketika mendengar nama Hong Kong, hal apa yang timbul kali pertama di pikiranmu? Kota yang indah dengan khiasan gedung pencakar langit dimana-mana?
Mungkin bagi para penikmat perfilman tahun 1970-an hingga awal 2000-an, Hong Kong adalah gudangnya aktor-aktor bela diri. Ya, demikianlah gambaran Hong Kong. Sebuah negara administrasi khusus dari Republik Rakyat Tiongkok yang super sibuk dan ramai dikunjungi orang. Sebagai negara administrasi khusus, Hong Kong memiliki kewenangan mengelolah sendiri pemerintahannya. Bahkan, ia memiliki mata uang (Dollar Hong Kong/HKD) dan lagu kebangsaan sendiri. Hong Kong, secara garis besar, terbagi ke dalam dua wilayah. Yaitu wilayah yang terletak di kawasan Cina daratan dan wilayah Pulau Hong Kong sendiri.
Selain karena keindahan kotanya, Hong Kong juga memiliki berbagai macam tempat rekreasi. Kamu dapat menghabiskan akhir pekan yang luar biasa bersama keluarga di negara administrasi khusus dari Cina daratan ini. Ocean Park dan Disneyland menjadi tempat favorit kebanyakan orang guna menghabiskan waktu akhir pekan di sini. Biasanya, Ocean Park lebih banyak dikunjungi oleh muda mudi atau pun orang dewasa. Bagi yang lagi kasmaran dengan pasangannya cocok untuk dibawa ke sini. Sementara, Disneyland cenderung dipenuhi oleh rombongan keluarga. Sebab di tempat rekreasi yang terkenal ini, maksudku Disneyland, kebanyakan wahana bermainan yang tersedia diperuntukkan bagi anak-anak.
                                                                Aku ketika di Ocean Park Hong Kong
Baiklah, dua pragraf di atas kita anggap saja sebagai pembuka pembahasan tulisan kali ini. Selanjutnya akan aku urai gambaran bagaimana melangsungkan perjalanan ke Hong Kong. Perlu diketahui bahwa sesuai dengan kebijakan kantor imigrasinya, para visitor dari Indonesia yang hendak berwisata ke Hong Kong hanya dimintakan visa on arrival. Dengan demikian, wisatawan dari Indonesia tidak perlu dipusingkan oleh pengurusan visa sebelum keberangkatan ke Hong Kong. Sebab hal itu tidak perlu, jika sebatas hendak berwisata. Namun, passpor tetap diperlukan ya. Jadi, bagi yang belum memiliki passpor diharuskan mengurusnya terlebih dahulu di kantor Imigrasi terdekat. Jangan ke Kantor Urusan Agama, karena yang dikasih bukan passport nantinya melainkan buku nikah.
Selanjutnya, yang perlu dipersiapkan apabila hendak ke Hong Kong ialah tiket pesawat dan penginapan. Biaya penginapan di Hong Kong dimulai dari Rp. 200.000-an hingga jutaan, silahkan disesuaikan dengan budget yang ada. Biasanya penginapan dengan anggaran murah terdapat di daerah di luar Pulau Hong Kong, seperti di Tsim Sha Tsui atau pun Mongkok. Namun, akan lebih baik bila kamu memiliki teman atau keluarga yang bisa dimintakan izin menginap selama berwisata. Hitung-hitung untuk berhemat.
Nah, kalau ngomongin tiket pesawat dari Jakarta (Bandara Internasional Soekarno-Hatta, anggaran ke Hong Kong (Hong Kong International Airport) umumnya berada di kisaran Rp. 2.000.000 hingga Rp. 3.000.000 untuk sekali berangkat tanpa transit (direct). Maskapai yang melayani perjalanan langsung Indonesia-Hong Kong setidaknya ada tiga, yaitu, Cathay Pacific (2 kali penerbangan/hari), China Airlines (1 kali penerbangan/hari), dan Garuda Indonesia (2 kali penerbangan/hari). Untuk keberangkatan dengan transit bisa lebih murah, anggarannya berkisar mulai dari Rp. 1.000.000 hingga Rp. 2.000.000. Maskapainya terdiri dari; Scoot, Malindo, Jetstar, dan Malaysia Airline. Namun, bila beruntung suatu waktu bisa mendapat harga promo yang jauh lebih rendah. Kapan aja waktunya itu? Aku juga tidak terlalu memahami. Yang jelas pesanlah tiket dalam mode round-trip atau pulang-pergi (PP). Mitosnya bakal lebih baik demikian.
Berapa sih modal yang diperlukan selama berkunjung ke Hong Kong? Jawabannya tergantung pada destinasi yang hendak dituju dan tempat makan. Jika kamu hendak pergi ke tempat-tempat seperti Disneyland, Ocean Park, Victoria Peak, Tian Tan dan tempat kece lainnya. Maka di perlukan anggaran setidaknya Rp. 500.000 hingga Rp. 1.000.000-an per orang untuk di satu tempat. Sementara untuk makan sebaiknya cari restoran Indonesia saja. Selain rasanya akan lebih mengenal di lidah, anggarannya pun masih lumayan.
Di Hong Kong ada banyak restoran Indonesia yang dapat dijumpai, khususnya di Causeway Bay dekat Victoria Park. Pergi saja ke dekat kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), di sekitar situ akan mudah ditemukan restoran Indonesia. Atau di depan kantor Grapari Telkom yang baru, bukan yang di depan KJRI karena sudah pindah. Anggaran makan bisa dimulai dari Rp. 20.000 hingga Rp. 100.000. Causeway Bay memang terkenal sebagai wilayah kuliner, tapi hati-hati sebab ada banyak restoran dengan budget Rp. 1.000.000-an untuk sekali makan. Bagi anda yang memiliki kemampuan kantong yang cukup, tidak ada salah untuk mencicipi restoran-restoran di sini, maksudku yang anggarannya Rp. 1.000.000-an tadi.
Kalau transportasi selama di Hong Kong tidak perlu khawatir, MTR adalah moda transportasi publik yang asik untuk dinikmati. Selain murah, naik MTR juga lebih aman dan cepat. Anggarannya dimulai dari HKD 9 (Sekitar Rp. 16.000 kalau kursnya Rp. 1.800/HKD) untuk jarak dekat satu stasiun hingga HKD 22 (sekitar Rp. 50.000) untuk jarak jauh.  MTR ini sudah beroperasi sejak pukul 05:30 waktu di sana. Dan berhenti beroperasi pada pukul 01:00 malam. MTR akan datang silih berganti setiap 5-7 menit. Oh ya, waktu di Hong Kong sama dengan Waktu Indonesia Tengah atau selisih satu jam lebih cepat dengan Waktu Indonesia Barat. Selain naik transportasi publik apa lagi? Menelusuri Hong Kong pada dasarnya cukup dengan modal bejalan kaki dari stasiun MTR. Sebab jarak satu tempat ke tempat lain tidak terlalu jauh dari stasiun pemberhentian MTR.
Kalau mau naik MTR dari bandara internasional Hong Kong akan diawali dulu dengan naik Airport Express. Jika naik Airport express aku sarankan agar turun di stasiun Hong Kong atau Central, karena akan lebih mudah bila hendak kemana-mana. Selain berhenti di stasiun Hong Kong atau Central, Airport Express dari bandara juga berhenti di stasiun Tsing Yi dan stasiun Kowloon. Harga tiket untuk PP stasiun bandara- stasiun Hong Kong/Central sekitar HKD 205 (Rp. 370.000). Sebetulnya anggaran sekali berangkat naik Airport Express sekitar Rp. 185.000. Hanya saja, dideposit sekitar Rp. 185.000 untuk jaminan bisa kembali ke bandara. Lebih lanjut, cek website MTR Hong Kong langsung di www.mtr.com.hk untuk mengetahui unggahan terbaru mengenai biaya dan kebijakan lainnya.
Peta MTR Hong Kong
Memilih naik Airport Express ke Pulau Hong Kong akan jauh lebih murah ketimbang naik transportasi lainnya. Apalagi naik taxi. Aku pernah naik taxi argo dari bandara ke Causeway Bay, tempat aku tinggal selama di Hong Kong. Total harga mencapai hampir HKD 500 (Rp. 750.000). Selain mahal, lewat darat juga memakan waktu yang lebih lama ketimbang naik kereta. Sebelum aku lupa, selama di Hong Kong sebaiknya memiliki kartu sakti Octopus. Kartu ini semacam e-money kalau di Indonesia. Memiliki Octopus, tentu yang berisi saldo ya, akan lebih memudahkan dalam menaiki transportasi publik dan bahkan membayar biaya makan atau belanja di Hong Kong. Biaya pembuatan Octopus HKD 150 (Rp. 270.000), sudah termasuk deposit sebesar HKD 50 (Rp. 90.000). Deposit tersebut bisa diambil sewaktu-waktu jika diinginkan. Tentunya dengan membayar biaya admin, kalau tak salah sebesar HKD 9 (Rp. 16.000).
Baik, sekarang mari mulai mengakumulasi total keuangan yang perlu disiapkan bila hendak ke Hong Kong. Anggap saja hendak berkunjung selama 4 hari dengan rincian mengunjungi Disneyland, Victoria Peak dan Madame Tussaud, serta Victoria Park. Ingat, yang akan dihitung hanya sebatas perjalanan kelas ekonomi. Dipastikan siapapun sudah berangkat ke Hong Kong dengan perhitungan harga berikut. Harga tiket pesawat pulang-pergi totalnya Rp. 1.800.000/orang ditambah penginapan Rp. 200.000 x 4 hari, ke Disneyland dan Victoria Peak sekitar 2.000.000/orang, makan sehari 200.000/orang x 4 hari. Dan anggaran operasional yang tak terduga sekitar Rp. 1.000.000. Bila dibulatkan, total anggaran yang perlu disiapkan sekitar Rp. 6.500.000.
Bagaimana cara ke Victoria Peak? Sebelumnya, apa saja yang dapat dijumpai di Victoria Peak. Bukit ini menjadi salah satu bukit yang sangat ikonik bagi Hong Kong. Rasanya belum betul-betul menginjak daratan Hong Kong bila belum berkunjung ke bukit ini. Berwisata ke sini kita akan dihadapkan pada pemandangan kota Hong Kong yang luar biasa dari tempat yang dikenal Sky Terrace. Selain itu, di sini pengunjung dapat pula mengunjungi musium lilin Madame Tussaud. Untuk menuju Victoria Peak yang berada di daerah Central, dapat berhenti di stasiun Central atau Admiralty. Dari stasiun itu kemudian berjalan kaki ke gerbang Peak Tram. Dari gerbang/ depan Peak Tram pengunjung dapat memilih transportasi menuju Sky Terrace. Bisa PP naik Peak Tram, kereta ‘legenda’ yang telah berusia lebih dari seratus tahun, dengan membayar biaya sebesar HKD 99 (Rp. 178.000) per orang dewasa. Untuk anak-anak lebih murah lagi, sekitar HKD 47 (Rp. 85.000).
Pemandangan Kota Hong Kong dari Sky Terrace
Kalau memiliki budget lebih, bisa naik bus atau taxi. Dalam perjalanan mata akan dimanjakan oleh hamparan pemandangan Kota Hong Kong. Bagai melintasi bukit empat puluh empat di Maninjau (Sumatera Barat), dari bawah menuju puncak victoria kendaraan akan melintasi jalan yang berbelok-belok hingga sampai ke puncak. Oh ya, kalau hanya sekedar mengunjungi Sky Terrace dengan menaiki Peak Tram PP-nya, cukup dengan membayar Rp. 178.000. Namun, jika berminat untuk melihat-lihat koleksi patung lilin di Musium Madame Tussaud, maka per orang dewasa dikenakan biaya sebesar HKD 265 (Rp. 477.000). Sedangkan tiket untuk anak-anak dihargai sebesar HKD 205 (Rp. 370.000).
Mengajarkan Einsten cara menggunakan android di Museum Patung Lilin Madame Tussaud.
Habis menimba ilmu cara beristri banyak kepada Pak Karno.
Setelah puas seharian dengan Victoria Peak, lantas kemana lagi kunjungan berikutnya? Oke, kini tiba waktunya ke Disneyland. Ke Disneyland menggunakan MTR dari Pulau Hong Kong bisa naik dari stasiun Hong Kong atau Central. Kemudian berhenti di stasiun Sunny Bay. Dari Stasiun Sunny Bay pengunjung Disneyland akan menaiki kereta wisata khusus ke Disneyland. Tiket masuk ke kompleks Disneyland ada dua macam, yaitu 1 Day Pass dan 2 Day Pass. Bila anda bepergian sendiri cukup beli yang 1 Day Pass, tapi bila bepergian dengan keluarga belilah yang 2 Day Pass. Harga masing-masing jenis tiket berbeda dan tergantung umur juga. Untuk jenis tiket dewasa 1 Day Pass biayanya sebesar HKD 719 (Rp. 1.295.000).
Tampak di belakangku gapura Hong Kong Disneyland
Hal yang penting untuk diingat ketika hendak ke Disneyland yaitu tentang jenis tiket dan lamanya waktu diinginkan bermain di sana. Yang jelas, tempat rekreasi yang satu ini dibuka dari pukul 10:00 pagi hingga 21:00 malam waktu Hong Kong. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, seperti kehabisan tiket misalnya. Maka pesanlah terlebih dahulu tiket Disneyland secara online di website resminya https://www.hongkongdisneyland.com/. Sebagai catatan tambahan, hindari berkunjungi ke sini pada akhir pekan dan atau di waktu libur. Selain karena padat, harga tiketnya juga lebih mahal.
Setelah acara inti tuntas dilaksanakan, terus mau ke mana lagi? Kalau berminat mengunjungi Victoria Park di Causeway Bay, sebaiknya datanglah pada hari minggu khususnya pagi. Karena di sana ada puluhan ribu hingga, mungkin, ratusan ribu tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia yang duduk santai saling bercengkrama. Ada yang sibuk bermain musik dengan komunitasnya sesama TKW dari Indonesia. Ada yang sekedar duduk santai, ngobrol, hingga yang menjajakan jualan. Bahkan, ada pula yang menjual jajanan khas Indonesia seperti gorengan dan lainnya. Untuk menuju tempat ini menggunakan MTR, berhentinya di stasiun Wan Chai atau stasiun Causeway Bay.
Suatu waktu di malam hari, cobalah pergi ke Harbour City Mall, Tsim Sha Tsui. Di sini akan mudah ditemui kapal-kapal pesiar yang lagi merapat. Ke sisnilah. Setidaknya sekadar untuk menikmati pemandangan hamparan cahaya dari gedung-gedung tinggi di Pulau Hong Kong. Turun dari stasiun Tsim Sha Tsui bisa berjalan ke arah barat daya. Mall tersebut tidak sulit untuk ditemukan. Jadi, tidak perlu khawatir.
Penampakan daerah Capital di Pulau Hong Kong dari Harbour City Mall
Mau beli kenang-kenangan berupa cinderamata? Yok meluncur ke Mongkok. Di sana ada pasar terkenal, bernama Pasar Mongkok atau dikenal dengan Ladies Market. Turun dari stasiun Mongkok berjalan ke arah tenggara sedikit maka akan berjumpa dengan Ladies Market tersebut. Pasar jalanan yang dipenuhi oleh penjual souvenir dan segala macam cinderamata lainnya. Tak perlu khawatir dengan bahasa, para penjual rata-rata mengerti sedikit dengan bahsa Indonesia. Bukan hanya mengerti, beberapa telah ada pula yang bisa berbicara dengan Bahasa Indonesia.
Nah, itu dia Hong Kong, kota yang indah, aman dan ramah. Hampir setiap lokasi wisata dapat dituju dengan MTR. Termasuk bila hendak mengunjungi Tian Tan Buddha, pengunjung dari Pulau Hong Kong dapat menaiki MTR searah dengan Disneyland. Kali ini tidak berhenti di stasiun Sunny Bay. Tapi, berhenti di stasiun paling ujung, yakni Tung Chung. Datanglah lebih pagi, karena Tian Tan Buddha tutup lebih cepat dibanding lokasi wisata lainnya di Hong Kong. Hendak ke Ocean Park, dari stasiun Admiralty pindah jalur MRT ke stasiunnya Ocean Park.
Secara umum, saranku apabila hendak liburan ke Hong Kong tempatkanlah tujuan ke Ocean Park atau pun Disneyland di luar akhir pekan. Biar tidak kaget dengan harga tiket masuknya. Dan jangan lupa, pesanlah tiket secara online terlebih dahulu di situs resminya. Bagi wisatawan muslim, tidak perlu khawatir. Hong Kong ramah untuk wisatawan muslim. Mulai dari ramah makanannya hingga tempat ibadah. Ada banyak masjid di Hong Kong, dua di antaranya yakni Masjid Kowloon di kawasan Tsim Sha Tsui dan Masjid Ammar dan Osman di kawasan Wan Chai.



Oleh: MHD Zakiul Fikri
mata akan dimanjakan oleh aktivitas masyarakat setempat. Mulai dari anak-anak muda hingga orang-orang tua. Ada yang tampak memainkan batu sejenis domino, mungkin mereka bermain mahyong. Ada juga yang asyik bermain Jianzi, olahraga khas Cina.
Setelah lama terkubur dalam folder di laptop, baru kali ini aku kembali mengeluarkan sisa kenang-kenangan perjalanan ke Beijing pada awal tahun 2017 lalu. Tidak hanya mengeluarkan, tekad pun telah bulat untuk meriview ulang perjalanan tersebut. Hal inilah yang mendorongku untuk membahas pasal perjalanan ke Beijing dalam tulisan ini.
Layaknya agenda vacation lainnya, hal yang paling pertama yang perlu disiapkan adalah itinerary atau rencana perjalanan. Rencana perjalanan merupakan mapping plan dari rangkaian keseluruhan agenda perjalanan. Di dalamnya termuat tanggal keberangkatan, lama perjalanan, lokasi yang hendak dituju, penginapan hingga moda yang hendak digunakan. Dari itinerary pula kita dapat menentukan kisaran biaya selama perjalanan.
Unfortunately, tidak dapat aku tampilkan rencana perjalan yang pernah ditulis untuk keberangkatan ke Beijing. Karena berkas tersebut telah lenyap entah kemana. Yang teringat, perjalanan ini dilakukan berdua dengan seorang teman pada tanggal 19 hingga tanggal 23 Februari 2017. Tempat yang direncanakan bakal dikunjungi dalam waktu tiga hari efektif yaitu Forbidden City, Temple of Heaven, Tiananmen Square, Mausoleum of Mao Zedong, Forbidden City, dan Tembok Raksasa Cina (Great Wall).
Selama di Beijing rencananya kami tinggal di kawasan yang tidak jauh dari pusat transportasi umum dan tentunya juga tidak jauh dari pusat kota. Jadi kami menyewa penginapan Dragon Hostel (Bukan Beijing Happy Dragon Courtyard) yang beralamat di Dongsi 9th Alley. Harga penginapan yang disewa tidak sampai Rp. 200.000 per malam. Namun, bagi yang bepergian bersama keluarga tidak aku sarankan untuk menyewa penginapan ini. Selain karena ukuran kamar yang kecil, tempat mandi pun sharing dengan pengunjung lainnya. Itu 2017 lalu.
Pesawat yang kami gunakan dari Jakarta-Beijing-Jakarta ialah Cathay Pacific yang waktu itu harganya keseluruhan sekitar Rp. 3,5 juta, sudah pulang-pergi. Karena konsep perjalanan ini ala backpacker maka kami tidak menyewa tour guide selama di Beijing. Sementara untuk moda transportasi, kami lebih memilih menggunakan transportasi umum, khususnya transportasi sejenis kereta yang ada selama di sana. Mengingat transfortasi publik di Beijing juga telah terintegrasi, terutama oleh Mass Rapid Transit (MRT).
Setelah seluruh komponen itinerary jadi, selanjutnya mengurus visa. Meski sama-sama bagian dari Negara Republik Rakyat Cina, tapi kebijakan yang berlaku di Beijing berbeda dengan Hong Kong atau Macau (keduanya merupakan negara administrasi khusus) yang menerapkan visa on arrival. Visitor dari Indonesia masih diharuskan menggunakan visa turis (jika tujuannya wisata) untuk bisa masuk ke wilayah Beijing. Namun, tidak perlu khawatir sebab proses pengurusannya yang mudah dan cukup terjangkau. Hal yang paling utama, yang perlu disiapkan, pada saat hendak apply visa turis ke Beijing ialah dokumen-dokumen.
Dokumen-dokumen pengajuan visa ke Beijing meliputi; itinerary, bukti booking tiket pesawat, bukti pemesanan penginapan selama di tempat tujuan (saranku booking saja lewat booking.com, lalu cari pilihan ‘bayar di lokasi’ sehingga kapanpun anda bisa berganti penginapan), foto ukuran 4x6 sebanyak dua lembar dengan background putih, paspor asli dengan masa berlaku minimal enam bulan setelah tanggal kepulangan, dan foto kopi paspor bagian depan yang memuat identitas pemegang paspor. Nah, untuk yang berpergian dengan anak-anak, silah searching informasi lebih lanjut ya.
Setelah semua dokumen siap, maka pendaftaran permohonan penerbitan visa dapat dilakukan secara online atau manual. Saranku untuk pendaftaran sebaiknya dilakukan secara online di www.visaforchina.org, karena lebih efisien dan mudah. Setelah keseluruhan kolom pendaftaran diisi maka form tersebut didownload dan dicetak untuk selanjutnya diajukan ke Visa Centre-nya Cina beserta dengan dokumen-dokumen yang telah disiapkan sebelumnya. Di Indonesia ada tiga lokasi visa centre, yakni di Medan, Jakarta dan Surabaya. Aku dulu mengajukan visa di Visa Centre Surabaya. Memilih Surabaya hanya karena lebih dekat saja dari domisili waktu itu.
Ingat, sesampai di Visa Centre kita dapat memilih jenis pengurusan dan banyaknya entries. Seingatku, ada tiga tawaran pelayanan pengurusan visa turis ke Cina, yakni; reguler, express, dan rush. Sementara itu, untuk jenis entries ada yang; single, double, multiple 6 months, dan multiple 12 months. Beda jenis pelayanan dan banyaknya entries akan berpengaruh pada biaya visa. Waktu itu aku memilih pelayanan reguler satu kali entry, biayanya lebih kurang Rp. 550.000. Seingatku sekitaran itu.
Setelah dokumen diserahkan keseluruhan ke Visa Centre, nanti mereka akan menyerahkan berkas tanda terima yang berisi tanggal kapan pemohon disarankan kembali mengambil visa. Di berkas tanda terima itu juga dituliskan semacam nomor resi agar memudahkan para pemohon melacak status permohonan visanya. Dalam kasusku, butuh waktu tiga hari lamanya, semenjak penyerahan berkas ke Visa Centre, baru visa turis yang dimohonkan mengorbit.
Singkat cerita, pada tanggal 19 dini hari, tepatnya pukul 00:05 dengan seorang teman aku berangkat dari Jakarta menuju Beijing dengan Cathay Pacific. Empat jam perjalanan dari Jakarta menuju Hong Kong untuk transit, selanjut pada pukul 07:30 pagi waktu di sana kami melanjutkan perjalanan menuju Baijing. Lama perjalanan menggunakan pesawat dari Hong Kong ke Beijing sekitar 3 jam 20 menitan.
Kurang dari 10 menit pukul 11 siang waktu Beijing, pesawat yang kami tumpangi telah merapat di garbarata Beijing Capital International Airport. Selanjutnya mengantri keluar melewati imigrasi. Dari bandara kami menaiki Airport Express (kereta bandara), yang perorangnya membayar tiket seharga CNY 25 atau sekitar Rp. 50.000 (Kurs 2000/CNY). Seperti yang aku sampaikan di atas, perjalanan ini akan mengandalkan transportasi kereta, terutama MRT yang di lebih dikenal sebagai Beijing Subway. Berikut ini aku tampilkan gambar jalur-jalur MRT di Beijing (lebih jelasnya silahkan kunjungi https://www.travelchinaguide.com/cityguides/beijing/subway-map.htm).
Peta Beijing Subway
Perbedaan warna dari garis dan nomor line yang terdapat pada gambar di atas menandakan jalur serta tujuan yang berbeda dari masing-masing MRT. Kebetulan lokasi penginapan yang hendak kami tuju kali pertama setelah keluar dari bandara tidak jauh dari Stasiun Zhangzizhonglu (line 5 berwarna ungu). Dengan menaiki kereta Bandara, kami bisa berhenti di Stasiun Sanyuanqiao atau Stasiun Dongzhimen. Waktu itu, kami turun di Stasiun Dongzhimen, lalu bertukar menaiki MRT line 2 (warna biru) menuju Stasiun Yonghegong.
Seperti menaiki KRL (Kereta Rel Listrik) di Jakarta, kita diharuskan membeli kartu (bagi yang tidak punya e-money kalau dalam kasus KRL). Menaiki MRT di Beijing pun demikian, pada tahun 2017, harga tiket Beijing Subway berdasarkan jarak tempuh ialah sebagai berikut; CNY 3 untuk 6 km pertama, CNY 4 untuk 6 hingga 12 km, CNY 5 untuk 12 hingga 22 km, CNY 6 untuk 22 hingga 32 km, dan tambahan CNY 2 untuk 20 km bagi yang perjalanannya melebihi 32 km. Info perubahan harga bisa searching langsung tentang Beijing Subway.
Sesampai di Stasiun Yonghegong aku pindah lagi ke kereta line 5 (warna ungu) untuk selanjutnya menuju Stasiun Zhangzizhonglu, harga tiketnya CNY 3 atau sama dengan harga dari Stasiun Dongzhimen ke Stasiun Yonghegong. Dari Stasiun Zhangzizhonglu kami dapat berjalan kaki ke arah penginapan. Hanya memakan waktu sekitar lima menit dari stasiun ke penginapan. Ya, itu kisah hari pertama aku dan kawanku sampai di Beijing. Pada tanggal 19 februari atau hari pertama di Beijing, kami hanya menghabiskan waktu untuk beristirahat di penginapan.
Kebetulan bulan februari adalah puncak-puncaknya musim dingin di Beijing. Tengah hari pada saat hari kedua di Beijing suhu berada di bawah minus 0 derajat celcius. Pada hari kedua, tanggal 20, kami bermaksud melangsungkan perjalanan ke Temple of Heaven, Mausoleum of Mao Zedong, dan Tiananmen Square serta Forbidden City. Tempat ini mau dikunjungi dalam waktu satu hari karena memang lokasinya yang tidak terlalu jauh.
Dari penginapan naik Beijing Subway di Stasiun Zhangzizhonglu menuju Stasiun Tiantandongmen dengan harga tiket CNY 4. Kemudian berjalan kaki ke Temple of Heaven. Harga tiket masuk ke Temple of Heaven sebesar CNY 28 per orang, tidak bisa ditawar kalo ini. Dengan membeli tiket maka kami mendapat ‘permit’ untuk mengunjungi area manapun di Temple of Heaven. Sepanjang perjalanan menuju ‘puncak’, karena memang arealnya mendaki, seperti areal Candi Borobudur barangkali kalo di Indonesianya. Di puncak terdapat Hall of Prayer for Good Harvest dan museum yang berisi ringkasan perjalanan sejarah dan peninggalan Kaisar Ming dan Qing.
Selama perjalanan, mata akan dimanjakan oleh aktivitas masyarakat setempat. Mulai dari anak-anak muda hingga orang-orang tua. Ada yang tampak memainkan batu sejenis domino, mungkin mereka bermain mahyong. Ada juga yang asyik bermain Jianzi, olahraga khas Cina. Ya, singkat ditengok, kawasan Temple of Heaven merupakan wilayah hijau tempat berekspresi masyarakat Beijing. Didukung suasana yang asri, karena masih banyak pepohonan, bersih dan cuaca sejuk menambah nyaman suasana.
Hall of Prayer for Good Harvest
Saat tengah hari, suhu udara semakin dingin. Kami melanjutkan perjalanan ke arah utara dengan berjalan kaki menuju Tiananmen Square. Agak susah untuk mengingat secara rinci detail arah jalannya. Oh ya, sebelum aku lupa, salah satu yang menjadi ‘minus’-nya berwisata di Beijing pada masa 2017 ialah minimnya penunjuk arah yang menggunakan huruf latin, kebanyakan menggunakan aksara mandarin. Entah kalau saat sekarang. Masyarakat pada umumnya di Beijing tidak bisa berbicara dalam Bahasa Inggris, sehingga, boleh disebut jika Bahasa Inggris tidak akan menjamin kelanjaran backpacker di kawasan Beijing.
For Your Information ya, kalau misal kesasar di kawasan Beijing sementara bahasa mandarin minim. Jika bisa berbahasa Inggris pergilah ke petugas resepsionis hotel atau bartender club, mintalah bantuan mereka untuk menunjukkan arah jalan. Karena, berdasar pengalamanku, mereka dapat membantu. Sementara, rata-rata polisi dan petugas kantor pemerintahan di Beijing tidak terlalu fasih dalam berbahasa Inggris atau bahkan tidak bisa sama sekali. Bagiku, hal ini merupakan tantangan seorang traveler di satu sisi dan keunikan Beijing di sisi lainnya.
Sudah hampir pukul 15:00 waktu setempat baru kami sampai di kawasan Tiananmen Square. Kawasan ini dijaga ketat oleh tentara. Sayang sekali, meski berdekatan dengan Tiananmen Squere, kami tidak sempat berkunjung masuk ke kawasan Forbidden City dan Mausoleum of Mao Zedong. Hal ini salah satunya dikarenakan waktu yang terbatas. Ditambah, sempat terhambat saat melanjutkan perjalanan ke Tiananmen Square dari Temple of Heaven karena tiba-tiba salju turun dengan deras, malah aku pikir badai waktu itu, sebab saking derasnya.
Di sisi selatan Tiananmen Square, tampak salju turun dengan deras.

Di Kawasan Tiananmen Square, di belakangku tampak Monumen to the People’s Heroes

Nah, setelah puas (sejujurnya ga puas banget karena tidak dapat memasuki kawasan Forbidden City dan Mausoleum of Mao Zedong) menelusuri Tiananmen Square, tibalah waktunya untuk kembali ke penginapan. Kali ini, kami kembali menggunakan Beijing Subway menuju Stasiun Zhangzizhonglu. Stasiun terdekat di Tiananmen Square ialah Stasiun Tiananmen West atau Stasiun Tiananmen East. Waktu itu kami naik dari Stasiun Tiananmen East. Oh ya, kedua stasiun ini berada pada jalur line 1 (warna merah), sementara stasiun tujuan akhir berada di jalur line 5 (warna ungu). So, aku dan kawanku harus menaiki kereta dari Stasiun Tiananmen East menuju Stasiun Dongdan. Dari Dongdan transit menuju stasiun tujuan akhir. Total biaya perjalanan kembali CNY 3.
Hari ketiga di Beijing, tanggal 21, rencananya mau ke Great Wall alias Tembok Besar Cina. Sebetulnya, penginapan kami menawarkan jasa Guide Tour ke Badaling dengan harga CNY 120 atau sekitar Rp. 240.000 per orang. Selain ke Badaling, juga ada jasa ke Mutianyu. Mutianyu lebih mahal lagi, mereka patok CNY 180 per orang. Perbedaan antara Mutianyu dan Badaling, kata receptionist penginapan terletak pada jarak, moda transportasi umum, dan keramaian. Badaling merupakan gate wisata ke Tembok Besar Cina yang sering dan ramai dikunjungi oleh wisatawan.
Karena kawanku menolak untuk menggunakan jasa guide tour ke tembok raksasa Cina. Maka kami kembali menggunakan jalur kereta. Perjalanan ke Tembok Besar Cina (Great Wall) dapat ditempuh dengan dua moda yaitu bus dan kereta api. Kami memilih naik kereta api. Perjalanan memakan waktu 5 hingga 6 jam, sayang waktu itu aku dan kawanku tidak memperkirakan bakal selama itu. Kami berangkat menggunakan Beijing Subway dari Stasiun Zhangzizhonglu. Awalnya kami berencana menuju Stasiun Beijing North Railway, stasiun kereta api dari Kota Beijing menuju Stasiun Badaling. Kalau dari Stasiun Zhangzizhonglu naik Beijing Subway ke Stasiun Yonghegong Lama Temple, lalu transit ke jalur line 2 (warna biru) menuju Stasiun Xizhimen. Dari Stasiun Xizhimen berjalan sedikit ke arah utara hingga ketemu Stasiun Beijing North Railway. Dari situ bisa naik kereta api ke Badaling.
Akantetapi, pada tahun 2017 lalu, saat aku dan kawanku hendak menuju Badaling Stasiun Beijing North Railway ditutup karena sedang tahap renovasi. Dengan bahasa isarat dari petugas Stasiun Beijing North Railway kami diberi secarik kertas berbahasa Inggris yang isinya pemberitahuan bahwa kereta menuju Badaling dialihkan ke Stasiun Huangtudian. Stasiun Huangtudian ini, kalau naik Beijing Subway, berhentinya di Stasiun Huoying. Untuk menuju Huoying bisa dengan jalur line 8 (warna hijau) atau line 13 (warna kuning).
Kami sampai di Stasiun Huangtudian hampir jam 15:00 siang waktu setempat. Kemudian, naik kereta api pukul 15:30-an dengan membeli tiket seharga CNY 6. Perjalanan dari Stasiun Huangtudian ke Stasiun Badaling sekitar 1 jam. Artinya, secara otomatis aku dan kawanku tidak lagi dapat menikmati Tembok Besar Cina. Berdasar informasi yang kami terima dari pegawai penginapan tempat kami tinggal selama di Beijing. Fasilitas wisata di Great Wall mulai ditutup pada pukul 16:00. Namun, karena rasa penasaran yang menggebu, kami tetap melanjutkan perjalanan ke Tembok Besar Cina.
Suasana di dalam Kereta Api menuju Stasiun Badaling
Catat, waktu keberangkatan kereta api dari Stasiun Huangtudian ke Stasiun Badaling atau sebaliknya tidak sama setiap harinya. Lebih lanjut bisa dibuka website ini, https://www.travelchinaguide.com/china-trains/badaling-station.htm. Dari Stasiun Badaling, berjalan sekitar 20 menit mendaki menuju pintu wisata Great Wall. Selain karena fasilitas wisatanya sudah tutup, tapi kaki juga sudah tidak lagi kuat untuk berjalan mendaki. Karenanya, kami membuat keputusan untuk kembali.
Meski hanya sempat mengambil gambar dari gerbang wisata, tempat pembelian tiket kereta gantung. Namun, senangnya sudah luar biasa. Sebab akhirnya, yang terpenting, mengerti cara ke Badaling Great Wall dengan kereta api. Oh ya, saranku memang sebaiknya menggunakan kereta gantung jika hendak ke Badaling Great Wall, karena tanjakan pendakiannya yang cukup melelahkan. Mungkin pernyataan ‘cukup melelahkan’ ini terkecualikan bagi teman-teman yang hobi mendaki. Oh ya, mengenai harga masuk ke Tembok Besar Cina pada tahun 2017 lalu yang tertera di kaca loket tiket sekitar CNY 40. Kalau ditambah hendak naik kereta gantung harga sekali jalan CNY 80. Namun, bila memilih paket return (pulang-pergi) harga tiket kereta gantungnya CNY 100.
Di gerbang wisata Tembok Besar Cina
Jalan pulang kami sama dengan semula, harga tiketnya pun juga sama. So, aku tidak perlu menuliskan lagi rinciannya bagaiamana. Di hari keempat, tanggal 22, seharusnya kami berkunjung ke Beijing Olympic Stadium dan sekitarnya. Tapi, kawanku mengalami sakit karena suhu udara yang dingin. Maka perjalanan hari ini kami batalkan. Kami hanya dapat menghabiskan sisa waktu di Beijing dengan mengitari areal sekitar penginapan saja. Pada hari kelima, tanggal 23, kami bertolak pulang ke Jakarta dari Beijing pada pukul 13:40 dengan pesawat dan rute perjalanan yang sama dengan semula berangkat dari Jakarta. Pukul 04:00 pagi waktu Indonesia bagian barat kami sampai kembali ke tanah air.
Baik, itu dia review perjalanan musim dingin di Beijing tahun 2017 lalu. Beberapa catatan yang dapat aku tuliskan sebagai ulasan penutup, diantaranya; Pertama, Di Beijing, umumnya seluruh aplikasi yang terhubung dengan Google di blokir oleh pemerintah setempat. Jadi, bagi teman-teman yang hendak melangsungkan wisata ke Beijing, sebaiknya mendownload terlebih dahulu aplikasi VPN agar bisa menggunakan aplikasi yang terhubung dengan google di sana.
Kedua, Siapkan tisu basah bila bepergian ke Cina, khususnya Beijing, sebab toilet umum di sana sangat ‘menyiksa’. Tidak tersedia air untuk menyuci bekas buang air bung! Ketiga, Bepergianlah pada selain musim dingin. Pengalamanku berkata, pada musim dingin sedikit sekali spot wisata yang dapat dikunjungi. Saranku, datanglah pada musim semi atau gugur. Tempat-tempat seperti Summer Palace dan Great Wall akan lebih indah dilihat ketimbang musim dingin. Dan keempat, Bagi saudara yang mencari makanan halal selama berwisata di Beijing, sebaiknya gunakan aplikasi pencari makanan halal. Misal, salah satunya dapat dengan menggunakan ‘Muslim Pro’. Karena agak sulit Bung untuk menemukan makanan halal di Beijing. Beda kota lain, seperti Xinjiang misalkan yang mayoritas penduduknya muslim, akan lebih mudah menemukan makanan halal di sana.

Older Posts Home

singgalamaibookshop

singgalamaibookshop

Populer post

Jawaban Islam Atas Kegelisahan Feminisme Barat

ABOUT

Tempat menulis secara deskriptif ataupun analitis, tentang segala macam hal. Konon, bualan sehebat apapun tanpa rekam tulisan akan sirna seiring hapusnya kenangan. Sementara, corat-coret tak berguna akan tetap abadi selama rezim tidak memblokadenya.

Categories

  • Home
  • Agama
  • Bincang Buku
  • Pendidikan dan Kebudayaan
  • Polhukam
  • Sejarah dan Pergerakan
  • Travjoy

Contact form

Name

Email *

Message *

Designed By Goresan Intelektual | Distributed By Goresan Intelektual