MANAJEMEN PSIKOLOGIS SEMASA PANDEMI: SEBUAH CATATAN DISKUSI 3 KARANGKAJENS 1440


           

Oleh: Karangkajens 1440
...sistem imun atau daya tahan tubuh merupakan manifes dari prilaku setiap individu. Artinya, kualitas imun setiap orang bisa dipengaruhi oleh kondisi perilaku individu.
Pandemi Covid-19 berdampak luas terhadap pola interpersonal atau interaksi antar manusia. Kondisi pandemi ini diperparah dengan ancaman-ancaman lainnya, seperti krisis pangan dan lain sebagainya. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini akan memengaruhi keadaan psikologis setiap orang. Oleh sebab itu, perihal pandemi Covid-19 ini penting juga untuk memerhatikan sisi psikologisnya (Mi’rajul Akbar dalam republika.co.id, 18/04/2020).
Sebagaimana diberitakan oleh praktisi kesehatan atau peneliti virus bahwa Covid-19 sangat mudah menulari orang yang memiliki imunitas tubuh yang rendah (mediaindonesia.com, 08/04/2020). Karena itu menjaga kualitas imun tubuh menjadi penting sekali dalam menangkal masuk dan berkembangnya Covid-19. Dalam dunia kesehatan dan juga psikologi dikenal adanya konsep BIS (Behavioral Immune System) yang menerangkan bahwa sistem imun atau daya tahan tubuh merupakan manifes dari prilaku setiap individu. Artinya, kualitas imun setiap orang bisa dipengaruhi oleh kondisi perilaku individu.
Mi’rajul Akbar, Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Bidang Klinis Universitas Gadjah Mada yang menjadi pemantik sesi diskusi Karangkajens 1440 pada minggu tanggal 3 Mei 2020 atau bertepatan dengan 10 Ramadhan 1441 Hijriah, mengatakan berdasarkan konsep BIS tersebut maka dapat dilihat beberapa hal yang memengaruhi naik turunnya daya tahan tubuh seseorang ketika menghadapi pandemi Covid-19 ini.
Hal yang pertama yaitu perilaku berlebihan, seperti rasa jijik. Perilaku berlebihan ini merupakan respon alami dari BIS. Akbar mengatakan pandemi Covid-19 ini bahkan membuat ada orang yang sampai fobia, misalnya pada saat melihat kerumunan. Ketika kondisi fobia ini diangkat oleh media dan pada saat perilaku berlebihan mendapat tempat dalam framing media, maka sulit untuk menghindarkan munculnya kemudian stigma (labeling, stereotip, eksklusi sosial, hingga diskriminasi) yang menyematkan kerumunan dengan sumber penyakit tertentu.
Stigma dari fobia individu tadi bisa saja meningkat menjadi xenofobia, yakni kondisi ketakutan atau ketidaksukaan terhadap orang-orang dari negara dan budaya yang dianggap asing. Misal, timbul ketakutan untuk menerima masuknya orang dari daerah tertentu ke tempat kita karena anggapan akan membawa penyakit. Kondisi yang demikian, dimana muncul fenomena ketidak saling percayaan, amat kuat pengaruhnya terhadap kondisi daya tahan tubuh seseorang. Bahkan bukan hanya soal imun tubuh, kemungkinan terjadinya keos juga sulit dihindarkan.
Hal selanjutnya, lama-kelamaan stigma dan xenofobia itu akan terstruktur dan menjadi teori konspirasi. Individu-individu tergiring untuk berkonspirasi bagaimana orang-orang dari luar membawa virus masuk ke suatu wilayah. Meskipun, biasanya konspirasi tersebut tetap saja tidak terbukti. Namun, fenomena ini perlu direspon serius karena muaranya akan menciptakan ketidak-taatan. Memang itulah tujuan teori konspirasi digelontorkan, untuk menciptakan kepanikan. Dalam situasi panik, orang-orang akan tidak taat untuk menjalankan agenda penanggulangan beredar dan berkembangnya pandemi, seperti misalnya social distance, self-isolation, penggunaan obat-obatan dan sebagainya.
Hanya saja, demikian Akbar, bisa dilihat perilaku konspirasi dari setiap individu itu memiliki motivasi yang berbeda. Ada yang menyebarkan karena ketakutan. Ada yang menyebarakan karena peduli dengan masyarakat. Dan ada juga yang menyebarkan dengan motivasi narsistik. Namun, bagaimanapun juga, efek terburuk dari konspirasi juga akan berpengaruh pada daya tahan tubuh. Dan kondisi tersebut tentu saja tidak baik untuk diri seseorang.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kerjasama dari pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk keluar dari hal tersebut. Beberapa langkah teknis yang dapat disarankan, menukil juga apa yang disampaikan oleh Mi’rajul Akbar selaku pemantik, kepada pemerintah dan individu ialah sebagai berikut:
Untuk Pemerintah
1)   Mengoptimalkan layanan sejiwa yang telah diluncurkan akhir April lalu;
2)   Membantah konspirasi-konspirasi yang bermunculkan berdasarkan data-data saintifik; dan
3)   Menggalakkan kampanye ketaatan vaksin atau sejenisnya dengan memviralkan kampanye seperti “stay home” atau “do it for the people.”
Untuk Individu
1)   Batasi penggunaan medsos (media sosial) karena mengingat semasa PSBB (Pembatasa Sosial Berkala Besar) tidak ada rutinitas yang dapat dilakukan selain rebahan dan medsos. Kalau ada kecemasan personal yang cukup tinggi, sebaiknya tidak melihat info-info yang beredar. Bagaimanapun juga, sumber kecemasan banyak terdapat di medsos;
2)   Menjaga gaya hidup sehat; dan
3)   Untuk orang yang terbiasa berkegiatan di luar, biasakan menciptakan wadah kegiatan secara rutin di rumah. Ini merupakan langkah yang baik untuk mengurangi rasa cemas dan depresi.
Walaupun media memiliki logikanya sendiri, dalam situasi pandemi Covid-19 media sebaiknya memberitakan sesuatu berbasiskan fakta. Hal ini penting untuk saling menjaga opini publik agar prilaku-prilaku individu bukannya mengurangi daya tahan tubuh dalam menghadapi pandemi, tetapi saling menguatkan.
Terakhir, beban psikologis mungkin akan banyak setelah pandemi Covid-19 berlalu. Tapi, yang perlu diingat bahwa manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Di pandemi-pandemi sebelum Covid-19 juga begitu sebelumnya, ungkap Akbar. Secara umum, relasi manusia di dunia akan kembali normal. Meskipun dalam skala tertentu pola dan bentuk relasi tersebut akan menyesuaikan diri.

0 comments