Konstelasi Tuhan dan Manusia dalam Al-Qur’an


ilustrasi gambar: udaipurtimes.com


Dengan demikian bisa dikatakan orang yang beragama adalah lemah jiwanya karena dia tidak berani menghadapi tantangan hidup dan ingin hidup kembali seperti dalam perut ibunya. Jadi, Tuhan muncul karena kekecewaan dan ketidakberdayaan. Hal ini, menurut Freud, adalah gejala sakit jiwa.
Sebuah Fenomena
Anda mungkin pernah mendengar atau membaca pertanyaan seperti, “Mengapa kalian harus sholat?” atau “Mengapa kalian harus beribadah?” Bahkan, ada pula yang lebih nakal, “Mengapa harus bertuhan?” Kadang, pertanyaan itu disertai dengan pernyataan, “Tuhan hanyalah kreasi orang-orang lemah yang memerlukan sandaran kuat.” Bagi pribadi-pribadi yang popullum, ungkapan-ungkapan ini dibenarkan begitu saja, tanpa sempat suudzon terlebih dahulu. Padahal, jika ditelaah dengan benar lontaran kata-kata kritis itu ditujukan, setidaknya, untuk dua hal.
Dua hal yang dimaksud, jika bisa dijelaskan, adalah sebagai berikut; pertama, orang bertanya atau pun mengucapkan kalimat yang ‘menggugat’ lantaran keraguan terhadap eksistensi Tuhan. Bagi penganut skeptis ini, antara Tuhan dan manusia tidak ditemukan adanya keterpautan realitas yang logis. Dan kedua, sebab Tuhan sudah diragukan keberadaannya maka eksistensi sisa dari keraguan itu bisa dilawan atau, pahit-pahitnya, dihilangkan.
Fenomena sikap skeptis terhadap eksistensi Tuhan meski sudah ‘kuno’, tapi tetap saja menarik untuk diperbincangkan. Salah satu sebabnya, karena para pelaku berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari akademisi di tengah lingkungan kampus yang katanya modern, hingga orang awam di pelosok pedesaan. Agar lebih gamblang, jenis dan karakter pelaku skeptis ini. Sebut saja, misal, salah satunya pemikir abad 21 yang terkenal di kalangan sejarawan. Namanya kesohor di berbagai penjuru negara, Yuval Noah Harari. Dalam bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Yuval dengan percaya diri melontarkan keangkuhan intelektualnya dengan menyanjung potensi manusia. Menurutnya, manusia dapat menggantikan Tuhan sekalipun di dunia ini.
Lewat Homo Deus, Guru Besar Sejarah berkebangsaan Israel itu mengatakan, “Our future economy, society, and politics will be shaped by the attempt to overcome death.”[1] Mengapa Yuval begitu yakin kehidupan hari esok dapat ditentukan lewat percobaan mengatasi kematian? Ungkapan yang kemudian dijadikan landasan argumentasi untuk ‘membunuh’ kuasa Tuhan di dunia olehnya. Pernyataan dia tidak lepas dari kepercayaan bahwa daya intelektual yang ada pada manusia dianggap dapat mengendalikan kehidupan, sesuai kehendak manusia.
Tumpuan intelektual sejatinya berada pada otak manusia. Jika memang demikian arah pembicaraan Yuval, maka senafaslah ia dengan pemikir lainnya, yakni Michio Kaku. Michio, seorang fisikawan keturunan Asia Timur berkebangsaan Amerika Serikat. Beberapa karyanya cukup dikagumi oleh berbagai kalangan dewasa ini. Salah satu ungkapannya yang terkenal, “Brain is power being God.”[2] Otak adalah kekuatan untuk menjadi Tuhan! Demikian ungkap Michio dalam bukunya. Ungkapan itu, menurutnya, berdasar pada hasil riset ilmiah yang dilakukan selama satu dekade terakhir.
Dua pemikir abad 21 di atas adalah sederet contoh orang-orang sombong yang meragukan superioritas eksistensi Tuhan. Mereka mengagungkan daya intelektual otak semata untuk mengklaim superioritas manusia. Jika ditanya kepada mereka, “Lantas, darimana otak yang dianggap tumpuan sumber intelektual bermula?” Mungkin mereka akan berkilah asal otak dari partikel-partikel hidup yang terus berkembang, menyempurna, sehingga jadilah seperti otak sekarang pada umumnya. Alasan klasik, ujung-ujungnya bersandar pada teori evolusi yang dicetuskan Darwin di akhir abad 19 silam.
Itulah contoh orang-orang yang dibesarkan oleh laboratorium kampus, yang lagi-lagi, katanya modern. Selain pemikir modern dari dunia kampus, di persimpangan kedai Ciok Yarli yang terdapat di pelosok desa tidak sedikit pula para munafiqun alay. Mereka sok ikut menggugat superioritas eksistensi Tuhan. Misal, ungkapan, “Aku adik-beradik dengan Tuhan!” atau “Perbedaan umurku hanya tujuh hari dengan Tuhan!” adalah sepenggal ungkapan sinis yang merendahkan Tuhan oleh orang-orang kampung. Padahal, kebanyakan dari mereka pengidap buta literasi.
Di balik semua fenomena itu, tahukah kalian? Sesungguhnya keraguan akan konsep Tuhan sebagai suatu realitas  eksistensi bukanlah hal baru dalam sejarah pemikiran manusia. Dalam arti lain, perangai yang meragukan unsur transendental itu sudah ada semenjak dahulu. Ditambah lagi kini maraknya kehadiran teknologi, yang katakanlah canggih. Orang-orang semakin yakin, baik sadar atau pun tidak, bahwa Tuhan bukanlah apa-apa dalam hidup ini. Bahkan, bisa jadi Tuhan itu tidak ada (?)

Dari Nietzsche hingga Freudianisme
Pada tahun 1844 lalu, di German, lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Friedrich Wilhelm Nietzsche. Nietzsche kemudian hari terkenal sebagai pemikir fenomenal. Kata-katanya banyak menggugah otak manusia untuk berpikir ‘nakal’. Salah satu dari karyanya yang terkenal, Thus Spoke Zarathustra. Ia berkata lantang dalam buku itu, “Well! Take heart! Ye higher men! Now only travail the mountain of the human future. God hath deid and now do we desire, the superman to live.[3]
Tengoklah, betapa angkuh pernyataan Nietzsche itu. Ia berujar tiba masanya bagi seonggok manusia dengan kecakapan intelektualnya, yang disebut sebagai ubermensche atau superman, tampil dalam kehidupan bak Tuhan. Para superman ini, menurutnya, bebas berbuat berdasarkan kehendak birahi mereka. Sebab dalam alam pikir mereka Tuhan telah mati. Apa sebenarnya yang dimaksud Nietzsche dengan Zarathustra atau Tuhan telah mati itu? Lalu, siapa pula mereka yang disebut ubermensche?
Membaca Thus Spoke Zarathustra seperti menemukan sosok Michio Kaku di zaman dahulu, namanya masih Nietzsche. Ia mengemukakan gagasan pemikiran yang bertumpu pada otak dalam memproduksi kekuatan. Dengan kekuatan itu, ditenggarai, manusia menciptakan dan mencapai prestasi-prestasi bagai Tuhan dalam kehidupan dunia. Bagi orang-orang, seperti digambarkan Nietzsche dan Michio, Tuhan sebagai konsep dan tuntunan hidup tidak lagi berarti. Sebab manusia, tepatnya para ubermensche, dipercaya sudah bisa memproduksi sendiri sumber materiil dan nilai hidupnya sendiri. Sehingga Tuhan yang transendensi, yang dalam ajaran Teologi dipercaya sebagai asal segala materiil dan nilai, dianggap tidak lagi berguna.
Pada dekade yang bersamaan, tahun 1856 lahir seorang pemikir lain berkebangsaan Austria bernama Sigmund Freud. Sosok yang kemudian wafat tahun 1939 ini dikenal sebagai Bapak Psikoanalisis dalam dunia psikologi. Para murid ideloginya menyebut diri Freudian yang menganut paham Freudianisme. Freud dalam tiga karyanya; Totem and Taboo, The Future an Illusion, dan Moses and Monotheism, berujar banyak hal tentang konstelasi Tuhan dan manusia. Manusia, menurut Freud, pada hakikatnya merasa aman di kandungan ibunya (paradise). Setelah ia lahir, mulai merasakan kenyamanan tadi hilang (lost of paradise) sehingga ia mulai terasing dan terpisah dari dunia yang nyaman. Dari sini muncul konflik dalam dirinya yaitu keinginan untuk hidup nyaman dan ketidakberdayaan untuk kembali pada dunia yang nyaman tersebut. Kemudian muncul kebimbangan (insecure).[4]
Kebimbangan itu lalu mencari tempat yang aman, yaitu agama. Agamalah yang memberi alternatif untuknya. Dalam arti lain, orang yang beragama sama dengan orang yang putus asa dan lari dari kenyataan untuk mencari perlindungan sebagaimana dia dalam kandungan. Dengan demikian bisa dikatakan orang yang beragama adalah lemah jiwanya karena dia tidak berani menghadapi tantangan hidup dan ingin hidup kembali seperti dalam perut ibunya. Jadi, Tuhan muncul karena kekecewaan dan ketidakberdayaan. Hal ini, menurut Freud, adalah gejala sakit jiwa.[5]

Celoteh al-Qur’an tentang Konstelasi Tuhan dan Manusia
Baik Nietzsche, Yuval dan Michio memiliki corak yang sama dalam kesimpulannya tentang hubungan Tuhan dan Manusia. Mereka bertumpu pada kemampuan otak memproduksi dan berbuat sesuatu. Sementara Freud bertitik tolak pada kecakapan jiwa. Namun, empat orang pemikir itu memiliki konklusi yang hampir dapat disamakan, yakni sama-sama ragu akan eksistensi superioritas Tuhan serta hubungannya dengan manusia. Maka, mereka layak disebut para atheis berdasi.
Orang-orang yang tak perlu argumentasi dan basa-basi orasi di kampung juga layak disebut atheis. Mereka yang sok jago melawan kekuatan pikiran Tuhan. Mereka yang sombong dengan dirinya sendiri, serta sok ikut meragukan superioritas transendensi. Mereka sejatinya sama saja dengam empat pemikir barat tadi, sama-sama atheis. Hanya saja, satu kelompok terdiri dari para atheis perkotaan. Sedang mereka, para kampungers, boleh disebut atheis ndeso.
Dalam dunia pemikiran Islam, hubungan antara Tuhan dan Manusia sudah dibicarakan dengan elok lewat al-Qur'an. Kata-kata al-Qur'an itu dapat diartikan secara folosofis atau pun mekanis. Sayangnya, tidak semua orang mau mempelajari, khususnya dari kalangan penganut kepercayaan terhadap kitab itu sendiri. Mempelajarinya saja banyak yang enggan, apalagi memahami. Sehingga yang terproduksi ialah cara pikir yang meragukan keilmiahan ilahi seperti pemikir atheis barat lainnya.
Al-Qur'an mengisahkan hubungan logis antara Tuhan dan manusia. Ia (baca: al-Qur'an) berkisah, dahulu kala Tuhan ingin mengadakan sebuah misi di suatu wilayah. Wilayah itu yang kemudian hari dikenal dengan nama bumi. Tampaknya, ini misi ke sekian yang hendak dilaksanakan. Sebab sebelumnya, ditenggarai penerima misi gagal menunaikan tugas dari misi tersebut. Karena itu kemudian para abdi Tuhan yang lain, sebut saja malaikat, tabayyun kepada Tuhan. Mereka bertanya, 'Wahai Dzat yang Maha Suci, mengapa hendak mengirim makhluk lagi untuk menjalankan misi? Bukankah misi ini pernah gagal? Pelaksananya membuat kerusakan dan menumpahkan darah pada saat menjalankan tugas?'[6]
Tuhan merespon baik pertanyaan 'tangan kanannya' itu, lalu Ia berujar 'Sungguh Aku lebih paham apa yang belum engkau pahami!'[7] Mendengar jawaban itu, maklumlah para malaikat akan keterbatasan pengetahuan yang ada pada mereka. Misi pun berlanjut, penerima misi ini diperuntukkan bagi para abdi Tuhan sendiri, salah satu kandidatnya pun mungkin malaikat itu.[8] Tapi, rupanya diantara sekian abdi yang ditawarkan kepadanya misi itu, termasuk malaikat. Hampir-hampir semua menolak, kecuali seorang makhluk. Makhluk yang seorang ini bersedia menjalankan misi dengan segala konsekuensinya, mereka inilah manusia.[9]
Belajar dari kisah yang dituliskan al-Qur’an maka ditemukanlah pemahaman mengenai hubungan logis antara Tuhan dan Manusia. Sebelumnya, kalian tahu apa jenis misi yang diberikan Tuhan kepada manusia itu? Ya, menjadi Khalifah! Maka dalam konteks ini khalifah harus dimaknai sebagai jabatan kemanusiaan, amanah yang dipegang seonggok tulang berlapis daging dan kulit bernama manusia semenjak lahir ke dunia. Mereka, para khalifah itu adalah abdi, budak atau pelayan dari superioritas transendensi. Lantas, apa tugas atau misi para khalifah? Yakni menghidupkan serta mensejahterakan kehidupan bumi. Misi khalifah merupakan misi menebarkan nilai kemanusiaan. Nilai-nilai yang harus ditransformasikan dalam misi kemanusiaam itu mencakup; nilai ketuhanan,[10] nilai keilmuan,[11] nilai persaudaraan,[12] nilai persamaan,[13] nilai keadilan,[14] dan nilai kemanfaatan sosial.[15]
Dimana letak kelogisan hubungan antara Tuhan dan manusia dalam kisah misi khalifah? Ibaratnya seorang B dari kampus A yang diutus menjadi delegasi menjalankan misi kemanusiaan ke daerah C. Maka tugas utama B adalah menjalankan amanat yang telah sampai kepadanya itu. Sebagai delegator, maka segala konsekuensi berkenaan hak dan kewajiban serta sanksi atas tugasnya itu ditanggung sendiri oleh B.[16] Demikianlah konsekuensi penerimaan wewenang melalui jalur delegasi yang didoktrinkan di kampus-kampus hukum. Sehingga ditemukan hubungan logis bahwa kewenangan selaku khalifah didapat dari delegasi yang diberikan Tuhan. Dan bagi seorang khalifah segala tanggungjawab atas tugas yang diembannya ditanggung sendiri.[17]
Agar B dipastikan menjalankan tugas dengan baik, dan tetap pada koridor amanah yang diberikan kampus. Maka ada pula kewajiban rutin B untuk menyampaikan report kepada A. Dalam konteks melapor itulah fungsi utama sholat muncul. Jadi, dapat diartikan bahwa sesungguhnya sholat menjadi simbol penghubung komunikasi antara Tuhan dan manusia. Ia merupakan wujud dari kesetiaan terhadap tugas yang diberikan oleh superioritas eksistensi ilahi. Dengan demikian, dalam al-Qur'an tidak ada lagi ruang untuk ragu terhadap eksistensi superioritas Tuhan. Sebab Dia adalah sumber utama materi dan nilai dalam kehidupan. Dalam teroti kosmologi-kausalitas, Dialah penyebab dari segala sebab. Artinya dari-Nya segala suatu berasal, yang pada akhirnya sesuatu itu akan kembali juga kepada-Nya.[18] Pernyataan al-Qur'an bukanlah dongeng, sebab dapat diejawantahkan dalam bahasa yang logis dan dibuktikan keilmiahannya. Artinya, keseluruhan penjelasan al-Qur’an dapat dipertanggungjawabkan landasan keilmuannya.



[1] Lihat Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.
[2] Michio Kaku, The Future of the Mind.
[3] Lihat dalam Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra.
[4] Sigmund Freud, dalam Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama.
[5] Ibid.
[6] Lihat Q.S. 2:30
[7] Ibid.
[8] Lihat Q.S. 51:56
[9] Lihat Q.S. 33:72
[10] Lihat Q.S. 3:110 dan 112:1-4
[11] Lihat Q.S. 2:119, 3:190-191, dan 16:78
[12] Lihat Q.S. 4:1 dan 49: 9, 13
[13] Lihat Q.S. 4:135 dan 49:13
[14] Lihat Q.S. 4:135 dan 5:8
[15] Lihat Q.S. 21:107 dan 107:1-7
[16] Baca defenisi delegasi menurut Hukum Administrasi Negara, salah satunya dalam Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara.
[17] Lihat Q.S. 17:36 dan 41:20
[18] Lihat Q.S. 2:156 dan 3:109

0 comments